Dasar Rangkaian Pemicu dan Komutasi

Kenapa harus ada rangkaian Pemicu ?
mari kita pelajari bersama sama

Pada postingan postingan sebelumnya kita telah banyak membahas Transistor dan MOSFET. ( silahkan dicari di kotak pencarian 'search di bagian kanan atas blog ini ')

Transistor dan MOSFET merupakan komponen yang hanya dapat dioperasikan sebagai switching dan controlling saja, sedangkan operasi converting tidak bisa dilakukan. Hal ini berarti, transistor dan MOSFET hanya bisa untuk pengaturan sumber DC menjadi DC saja, sehingga untuk pengaturan sumber AC menjadi DC atau sebaliknya tidak bisa dilakukan.

 Sebagaimana telah dijelaskan dalam Bab I, jika transistor dan MOSFET dioperasikan sebagai switching, konfigurasi yang digunakan umumnya kolektor-emitor bersama (common-CE) dan drain- source bersama (common-DS), dimana dengan pengendalian arus basis pada transistor dan pengendalian tegangan pada MOSFET akan dapat meng-ON dan OFF-kan rangkaian.

Berbeda dengan transistor dan MOSFET, SCR merupakan komponen yang dapat dioperasikan serbaguna, baik sebagai switching, controlling, maupun converting. Hal ini berarti, SCR bisa digunakan untuk pengaturan sumber DC menjadi DC, AC menjadi AC, maupun untuk pengaturan sumber AC menjadi DC atau sebaliknya. SCR dioperasikan sebagai switching, dengan cara memberi signal arus pada gate.


rangkaian pemicu dasar yang digunakan untuk menyulut signal arus pada terminal gate pada SCR, dengan cara meng- ON-kan sakelar manual (Sw). Uraian selanjutnya  akan  difokuskan  pada rangkaian pemicu untuk SCR.Untuk   menentukan   rangkaian   pemicu   yang   tepat   perlu memperhatikan karakteristik Vg-Ig  dari SCR seperti ditunjukkan pada Gambar

Rangkaian pemicu ditinjau dari proses pembentukan tegangan pemicu  yang  dihasilkan  dapat  dilakukan  melalui  beberapa  proses, antara lain: proses sifat komponen pasif (resistor, kapasitor), proses elektromagnetis (dengan trafo pulsa), proses modulasi lebar pulsa, dan proses optokopler. Rangkaian pemicu berikut merupakan beberapa contoh rangkaian pemicu yang umum digunakan.

RANGKAIAN KOMUTASI

Ditinjau dari sumber masukannya, terdapat 2 (dua) rangkaian komutasi, yaitu: komutasi alami (natural commutation) dan komutasi paksa  (forced  commutation). Jika  SCR  digunakan  dalam  sebuah rangkain tertutup dengan sumber masukan berupa tegangan AC, maka SCR akan OFF secara otomatis ketika mencapai titik lintas nol (zero crossing) yang disebabkan sifat alami dari sumber AC tersebut. 


 Jika SCR digunakan dalam sebuah rangkain tertutup dengan sumber masukan berupa tegangan DC, maka SCR akan OFF jika arus beban dilawan (dipaksa sama dengan) dengan arus komutasi yang dibangkitkan dari rangkaian komutasi. Proses inilah yang disebut komutasi paksa. 

Ilustrasi prinsip dasar dari komutasi paksa ini dapat dijelaskan melalui Gambar dibawah ini (a) dan (b). Ketika SCR OFF dan S di-ON terjadi proses pengisian C. Ketika S dalam kondisi OFF dan SCR di-ON- kan, maka mengalir arus beban IL=IT  = E/R. Ketika S di-ON kembali, maka SCR akan OFF karena arus IC melawan IT ( IC = IT).

Kapasitor merupakan komponen utama yang digunakan dalam rangkaian   komutasi.   Metode   rangkaian   komutasi   paksa   dapat dibedakan dalam enam jenis, yaitu: komutasi sendiri dgn resonansi beban,   komutasi sendiri dgn rangkaian LC, komutasi komplemen, komutasi bantu, komutasi pulsa luar, dan komutasi jaringan ac. Sebagai contoh, Gambar dibawah ini merupakan rangkaian komutasi paksa dengan metode komplemen. T1  merupakan SCR utama yang dihubungkan seri dengan beban (R1) , sedangkan T2 merupakan SCR bantu yang dihubungkan paralel dg T1.
Prinsip kerja rangkaian komutasi paksa dengan metode komplemen dapat dijelaskan dengan empat tahapan kondisi sebagai berikut:



 




 

Dasar Rangkaian Pemicu dan Komutasi Rating: 4.5 Diposkan Oleh: budis

No comments:

Berlangganan Via Email