Hakikat karya Tulis ilmiah

Kata ―ilmiah‖ dalam berbagai kesempatan seringkali dipandang sebagai sesuatu yang
rumit, terbatas, milik pihak tertentu dan tentu saja sulit dilakukan. Temu ilmiah, misalnya
terbatas pada ahli-ahli dalam bidang  tertentu. Karya ilmiah juga sering dipahami sebagai
karya yang dihasilkan oleh pihak-pihak tertentu yang sudah memiliki kader keilmuan tertentu
pula.
 Para penulis karya ilmiah biasanya pakar atau ahli dalam suatu bidang tertentu. Para
guru, karena dalam beberapa hal membatasi diri, seperti sulit memasuki wilayah ini, sehingga
setiap kali mengikuti seminar atau pelatihan karya ilmiah tidak dipandang sebagai  bagian dari
dunianya. Padahal guru adalah ilmuwan yang ahli pada bidangnya dan diharuskan
menghasilkan karya pada  bidang tersebut.  Padahal dunia keilmuan pada level manapun
mengandung kadar keilmiahan dan dapat diraih oleh siapa pun sesuai dengan bidangnya.
Dengan kata lain, karya ilmiah sesungguhnya harus menjadi bagian dari keseharian para guru
sebagai seorang ilmuwan.

Karya tulis ilmiah adalah sebuah karya tulis yang disajikan secara ilmiah dalam
sebuah forum atau media ilmiah. Karakteristik keilmiahan  sebuah karya terdapat pada isi,
penyajian, dan bahasa yang digunakan.  Isi karya ilmiah tentu bersifat keilmuan, yakni
rasional, objektif, tidak memihak, dan berbicara apa adanya.  Isi sebuah karya ilmiah harus
fokus dan bersifat spesifik pada sebuah bidang  keilmuan secara mendalam. Kedalaman karya
tentu sangat disesuaikan dengan kemampuan sang ilmuwan.  Bahasa yang digunakan juga
harus bersifat baku, disesuaikan dengan sistem ejaan yang berlaku di Indonesia. Bahasa
ilmiah tidak menggunakan bahasa pergaulan, t etapi harus menggunakan bahasa ilmu
pengetahuan, mengandung hal-hal yang teknis sesuai dengan bidang keilmuannya.
Namun, terlepas dari semua kerumitan dan nuansa-nuansa ―seram‖ yang diciptakan di
kepala guru, sebetulnya penulisan karya ilmiah merupakan keg iatan yang sama dengan proses
penulisan pada umumnya.  Kegiatan menulis pada dasarnya kegiatan menyampaikan atau
menyajikan gagasan atau pikiran, informasi, kehendak, kepentingan dan berbagai pesan
kepada pihak lain dalam bahasa tulis.  Kegiatan menulis karya ilmiah tentu dipahami sebagai
kegiatan menyampaikan pengetahuan dan temuan baru dalam suatu bidang ilmu dalam
bahasa tulis. Karya ilmiah juga biasanya menggunakan media ilmiah, seperti jurnal ilmiah
atau forum ilmiah.

Menulis adalah aktivitas seluruh otak yang menggunakan belahan otak kanan
(emosional) dan belahan otak kiri (logika) (DeProter, 1999:179). Peran otak kanan (emosi)
dalam kegiatan menulis adalah memberikan semangat, melakukan spontanitas, memberi
warna emosi, memberikan imajinasi, membuat gairah, memberikan nuansa unsur baru, dan
memberikan corak kegembiraan dalam tulisan sedangkan peran otak kiri (logika) dalam
menulis adalah membuat perencanaan (outline), menggunakan tatabahasa, melakukan
penyuntingan, mengerjakan penulisan kembali, dan melakukan penelitian tanda baca.
Camel Bird (2001:32) menyatakan bahwa seorang penulis di depan komputer itu
ibarat kucing yang terperangkap di balkon; mereka kadang menulis paling baik ketika mereka
terjebak dalam bahaya, menjerit untuk menyelamatkan hidup me reka. Jika saya mengurung
siswa-siswa saya di balkon, kadang saya mendapat hasil berupa suara mereka.
Sebuah karya tulis yang baik tentu yang komunikatif, maksudnya pesan yang
disampaikan dipahami pembaca sebagaimana maksud si penulis.  Tulisan yang komunikatif
disampaikan melalui bahasa-bahasa yang tersusun sistematis, mudah dicerna, tidak bertele-tele, dan tidak bermakna ganda (ambigu). Menulis karya ilmiah, dengan bahasa lain, adalah
menyusun kalimat-kalimat bermakna dalam sebuah rangkaian informasi yang berguna untuk
pembaca.

Mengingat semua ilmuwan  –termasuk guru—memiliki pemikiran dan gagasan
keilmuan, maka menulis karya ilmiah menjadi keniscayaan bagi seorang guru. Guru harus
melakukan proses kreatif ini dan menyampaikan setiap temuan atau masalah yang dihadapi di
ruang kelas atau proses pembelajaran dalam sebuah karya yang keilmiahannya dapat
dipertanggungjawabkan. Bagi guru, seharusnya, menulis karya ilmiah menjadi sebuah
kebutuhan mengingat dengan cara inilah para guru dapat mengomunikasikan  gagasan dan
persoalan pembelajaran yang setiap hari digelutinya. Karya ilmiah seharusnya bukan
pekerjaan yang ditakuti atau dijauhi, mengingat setiap guru membutuhkan berkomunikasi
akademik.

Karya tulis ilmiah tidak selamanya berawal dari hasil penelitian. Karya tulis ilmiah
juga dapat dihasilkan dari pemikiran-pemikiran mendalam yang dilengkapi dengan kajian
kepustakaan.
Hakikat karya Tulis ilmiah Rating: 4.5 Diposkan Oleh: budis

No comments:

Berlangganan Via Email